Easy & Quick: Crustless Spinach Quiche

Sebagai ibu rumah tangga yang juga bekerja (ecieee), waktu saya untuk memasak gak banyak. Pagi hari? Susah. Bangun aja sering kesiangan. Malam hari? Capek. Pulang kantor bawaannya cuma pengen nonton TV series favorit sambil leyeh-leyeh. Dan faktor yang bikin males masak adalah karena tempat saya tinggal saat ini belum memadai untuk punya dapur yang proper. Berhubung dapur impian eh rumah belum jadi, untuk sekarang saya terpaksa masak dengan peralatan seadanya.

Tapi percayalah, dengan peralatan-peralatan yang sederhana dan seadanya, kita bisa kok masak makanan yang proper, atau at least, enak dan gak bikin sakit perut :D. Salah satu makanan yang mudah dan cepat dibuat adalah si Crustless Spinach Quiche ini alias Quiche Bayam tanpa Kulit! Kenapa mudah? Soalnya gak perlu repot bikin adonan kulitnya dulu. Selain mudah dan cepat, crustless spinach quiche juga sehat lho. Oh iya, saya dapet resepnya dari sini, tapi saya modifikasi sedikit untuk isinya.

Bahan-bahan yang diperlukan:

  1. 2 siung bawang putih: iris kecil-kecil
  2. bawang bombay diiris kecil-kecil secukupnya aja, sesuai selera
  3. bayam, sesuai selera. Kalau mau sehat banget yaaa dibanyakin
  4. Smoked chicken 3-4 lembar: potong kecil-kecil (ini bisa juga diganti dengan smoked beef atau sosis)
  5. Keju cheddar: harusnya sih diparut, tapi karena saya males maka cuma dipotong-potong aja πŸ˜€
  6. Telur : 5-6 butir; ini juga disesuaikan aja sama selera
  7. olive oil
  8. Tomat merah satu butir: dipotong kecil-kecil
  9. Salt and black pepper (secukupnya)

Cara membuatnya juga gampang banget:

  1. Panaskan olive oil, lalu tumis bawang putih dan bawang bombay
  2. Abis tumis beberapa menit, masukkan smoked chicken
  3. Lalu masukkan bayam yang sudah dipotong-potong. Nah di sini agak tricky, soalnya si bayam kan harus kering gitu. Supaya pas masuk tumisan gak basah, saya “mengeringkan” bayam dengan paper towel.Β 
  4. Tambahkan garam dan black pepper terus tumis sampai 3/4 matang. Sebenernya ini balik ke selera sih, kalau pengen matang banget juga ya monggo.
  5. Kocok telur-telur, tambahin garam sama black pepper sedikit, terus masukkan deh adonan bayam yang tadi udah ditumis.
  6. Siapkan pinggan tahan panas, masukan sedikit olive oil, terus masukkan adonan yang tadi, tambahkan tomat dan keju.
  7. One step closer! Masukkan adonan crustless spinach quiche tersebut ke dalam microwave, panggang sekitar 8-10 menit. And voila, jadi deh! πŸ˜€

Selamat mencoba yaaa!crustless spinach quiche

Advertisements

Review: Nusantara Night by Doubletree Hotel

Open Resto : Doubletrree Hotel Jakarta

Open Resto : Doubletrree Hotel Jakarta

Beberapa minggu lalu, saya berkesempatan untuk hadir dan icip-icip seru di Open Resto by Doubletree Hotel Jakarta. Jadi ceritanya Open Resto punya program Nusantara Night (all-you-can-eat Β for IDR 288,000++,) yang diadakan setiap hari Selasa. Sesuai namanya, di Nusantara Night ini ada berbagai macam masakan khas Indonesia, mulai dari yang familiar kayak gado-gado, perkedel, ikan pindang, soto Bogor, sampai dengan masakan Indonesia yang udah dimodifikasi kayak pizza rendang. Endes? Banget! Tentunya kalau udah ketemu yang kayak gini harus dicoba satu-satu dong yaaaa. Unfortunately, berhubung saya agak parno sama yang namanya kolestrol, saya skip deh bebek dan udang :(. Walaupun ga nyoba bebek dan udang, saya ga melewatkan kesempatan untuk mencoba menu-menu menarik yang saya temukan di Nusantara Night! Ada apa aja?

1. Gado-gado : jelas rasanya beda sama gado-gado yang dijual di abang pinggir jalan dong yaaa. yang ini selain tampilannya lebihΒ fancy, rasanya juga agak beda karena bumbu kacangnya ga strong tapi ngeblend gitu sama bahan-bahan di dalam si gado-gado. Mungkin memang disesuaikan dengan lidah orang asing juga kali ya, biar ga kaget gitu kalo makan gado-gado πŸ˜€ *oke, ini analisis sotoy*

2. Pizza rendang: sebagai penggemar pizza, menu yang satu ini wajib banget dicoba di Nusantara Night! Pizza crunchy dan tipis dengan rendang yang dipotong kecil-kecil sebagai isinya. Tingkat kematangannya juga pas. Recommended πŸ˜‰

3. Pepes mangut: sebagai orang yang taunya cuma makan enak tapi ga bisa masak (-___-“), pepes mangut ini enak banget! Berdasarkan hasil googling, aslinya pepes mangut itu bahan dasarnya adalah ikan peda. Tapi kayaknya yang waktu itu saya makan ga ada rasanya peda deh, which is good, karena saya bukan penggemar ikan peda πŸ˜›

4. Dessert: nah bagian ini jelas favorit akuhhhh! Secara sini kan anaknya sweet tooth banget ya, seneng lah kalo udah ketemu yang manis-manis! My fav one goes to mango pannacotta! Teksturnya pas, rasa mangganya ga strong tapi juga ga light, dan terlalu manis.

5. Doubletree Cookies: kala yang satu ini sih memang signaturenya Doubletree Hotel ya, dan kalau follow Doubletree di IG, ada banyak cerita “jalan-jalan”nya si cookie ini. Cookiesnya Doubletree itu selain gedang banget, rasanya juga enak banget! *coba itung berapa banyak kata “enak” dalam postingan ini* :))

Oh iya, Nusantara Night akan berlangsung s.d 31 Desember mendatang lho. So buat yang pengen mencoba masakan khas Indonesia dari berbagai daerah, yuk cuss ke Open Resto! πŸ˜‰

And here the recap photos! Enjoyyyy! πŸ˜€

123

“Current Obsession” Food

Pernah ga mengalami suatu masa di mana kita “terobsesi” sama satu jenis makanan? Misalnya: dalam satu bulan bawaannya pengen makan sushi terus, atau pizza, atau hamburger, atau apapun. Sebenernya itu ngidam atau bukan ya? Atau memang doyan pake banget? πŸ˜€

Well, saya beberapa kali mengalami hal kayak gini nih. Pernah dalam satu minggu cuma pengen makan pizza, dan itu nyebelin banget karena pas ga ketemu pizza jadi cranky sendiri :)). Pernah juga dalam satu bulan bawaannya pengen makan sushi mulu, dan ini susah banget mengingat harga sushi ga terjangkau kalau makannya seminggu sekali :D.

Nah, minggu ini “current obsession” saya ada di Ayam Tangkap Atjeh Rayeuk di jalan Ciranjang (daerah Senopati) karena saya sampe makan ini 2x dalam satu minggu. Awalnya dulu liat temen kantor beli, kok lucu ya namanya? Ternyata ayam tangkap merupakan menu makanan khas dari Aceh, dan penampakannya juga unik, jadi ayamnya kayak disembunyiin di antara dedaunan kering gitu. (

Untuk orang yang ga berhubungan baik dengan sayur, awalnya saya sempat ragu untuk makan daun-daunnya, tapi kok temen-temen pada bilang enak? Dan ternyata memang enak pake banget! Justru rasa enaknya itu ada di daun-daunnya lho. Saya ga tau itu daun jenis apa, tapi digoreng kering, dan kayaknya sebelum digoreng kering, daunnya dibumbui dulu sama rempah-rempah. Sedangkan ayamnya terdiri dari beberapa potong, jadi ga cuma dikasih dada atau paha. Selain itu ada sayur lain, yang ditempatkan dalam satu mangkok yaitu sayur yang keliatannya kayak sayur lodeh (berhubung saya ga suka dengan sayur lodeh atau daun singkong, bagian ini selalu saya hibahkan ke orang lain πŸ˜€ )

Oh iya, di Atjeh Rayeuk ini ada beberapa jenis lagi makanan khas Aceh seperti Mie Aceh, Roti Canai, atau Nasi Bebek Tangkap, tapi saya belum coba. Karena saya masih belum bisa “move on” dari Ayam Tangkap-nya :)). By the way, kalau makan ayam tangkap jangan lupa order juga sambalnya ya, cuma 4 ribu kok per mangkok kecil. Waktu kemarin, beberapa temen ada yang order sambal jeruk dan sambal mangga; tapi yang paling enak menurut saya sambal kecombrang! Sambalnya agak mirip sambal matah, pas di lidah dan pas banget jadi temennya ayam tangkap. Untuk harga? Don’t worry, 38K aja kok. Terjangkau kan? πŸ˜€

ayam tangkap atjeh rayeuk

Mendadak Turis di Kampung Halaman (II)

Sebenernya di “Mendadak Turis di Kampung Halaman part II” ini saya ga banyak jalan-jalan sih, karena kondisi dan situasi di Bandung pas liburan itu amat-sangat-macet-sekali kayak situasi kota Jakarta di hari Jumat pas baru gajian. Disaster. So, di part II ini saya akan berbagi beberapa coffee shop baru (atau mungkin sebenernya udah lama tapi saya baru tau :D) yang sedang digandrungi oleh kawula muda. *elah kawula mudaaaa :)))*

1. Booster Society (Jalan Ir. H. Juanda 328)

Coffee shop yang satu ini terletak di daerah Dago, tepatnya di bawah Hotel Sheraton (ga di bawah persis, tapi di deretan situ deh :D), waktu saya sampai di sana, tujuan utama ada brunch ala ala di Monolog gitu. Sampai di Booster Society, saya tertarik banget dengan dekorasinya! Agak-agak industrial tapi cozy gitu. Here, take a look:Β 

Booster society Β Booster Society (2)Β booster society (3)

Tsakep banget kan? Buat yang mau brunch di sini, saya rekomen menu yang satu ini, kalau ga salah namanya big breakfast something πŸ˜€

big breakfast @ booster society

Kekurangannya si big breakfast ini cuma satu: harsh brown potatonya terlalu berminyak, but the rest: delicious!Β Favorit saya adalah jamur dan scramble egg-nya. Endes! Untuk menemani big breakfast, saya memesan hot creme brulee. Cupu ya? :D, maklum kalau pagi-pagi ga berani langsung hajar ke black coffee. Β Berhubung saya juga bukan expertise di bidang perkopian, buat saya hot creme brulee ini enak banget.

hot creme brulee @ booster society

Sebenernya big breakfast itu udah bikin kenyang banget-tapi lidah masih pengen nguyah, saya akhirnya memesan pizza. And guess what? Walaupun ini cuma di coffee shop, pizza-nya enak! Dan terjangkau pula harganya, satu piring gini sekitar 40K aja πŸ˜‰Β pizza @booster society

Overall, saya puas banget makan di sini dan pastinya kalau ke bandung akan berkunjung ke sini lagi :D. By the way, berhubung lahan parkirnya kecil, kalau datang ke sini mending agak pagian ya.

2. Two Cents (Jln. Cimanuk no. 2)

Udah sampe Bandung, ga mungkin kalau ga ketemu temen-temen kan? Pas pengen janjian sama mamak @kopiholico sekeluarga, pas nemu juga coffee shop lain yang ga kalah kece. Kalau di Booster Society dekornya serba brick alias batu bata, kalau di Two Cents dekornya serba kayu. Β Yang saya suka dari tempat ini, hampir semua tempat duduknya sofa! yah sebagai orang yang demen leyeh-leyeh, it feels like home :D. Kira-kira kayak gini dekornya:Β http://clipsterapp.com/cecilia-kustomo/1496.

Sedangkan untuk menu makanan dan minuman, sama kayak di Booster Society, Two Cents juga menyediakan menu sarapan dan menu untuk makanan berat lainnya. Berhubung udah kenyang, saatnya nyicip dessert aja. Pas nanya ke waiternya, katanya sih 2 makanan berikut adalah dessert-dessert yang menjadi rekomendasi di Two Cents:

apple crumble pie @ two centsΒ croissant bread pudding

Apple pienya enak tapi crumble-nya buat saya kurang crunchy, nah kalau croissant bread pudding ini rasanya unik banget. Jadi isinya bread pudding tapi luarnya croissant. Agak bingung juga kenapa yang kayak gini belum pernah saya temukan di Jakarta, padahal enak lho πŸ˜€

Untuk minuman, saya pilih another-cupu-coffee yaitu hot caramel machiato :D, rasanya enak dan latte art-nya kece banget!Β caramel machiato @ two cents

Dari Two Cents, saya dan keluarga mamak @kopiholico beranjak ke coffee shop lain yang letaknya ga jauh dari Two Cents, yaitu ke Blue Doors di jalan Gandapura. Sayangnya pas sampe sana, ga dapet tempat duduk sama sekali. Padahal tempatnya kece dengan dekor industrial. Next time ya Blue Doors! πŸ˜€

Berhubung janjian juga sama Dian, akhirnya muter balik dan sampailah di Vanilla Kitchen and Wine, letaknya ga jauh dari Two Cents. Di Vanilla, saya ga sempet foto-foto karena baterai hp sudah tewas, tapi saya sempat mengabadikan suasananya di Clipster. Here, take a look:Β http://clipsterapp.com/cecilia-kustomo/1498.

Kira-kira segini dulu info tentang “tour de coffee shop” di Bandung. Semoga infonya berguna buat teman-teman yang mau liburan ke Bandung ya!

Have fun! πŸ˜€

Culinary Trip in Bali part 2

Akhirnya ada waktu juga untuk nerusin postingan ini, bukannya sok sibuk tapi apa daya dikejar deadline dan dikejar client *curhat*. Hari ini gue bakal ngomongin perjalanan kuliner di hari ketiga.

Di hari ketiga, ada 3 tempat yang gue kunjungi. Pertama: Lanai Beach Bar and Grill. Tempatnya ga jauh dari Tekor Bali, dan masih di wilayah pantai Double Six. Variasi menu brunch di sini lumayan banyak, tapi ga ada paket hemat seperti yang ditawarkan Tekor Bali. Hari itu gue order Burrito. Isinya? Scramble egg, potato, tomato, dan cabe paprika plus satu mangkok tomat cincangΒ . Kombinasi yang pas, agak-agak pedes dikit, tapi enak. Sayangnya, pada saat disajikan, agak basah gitu. Gue kurang suka. Tapi overall, dari segi rasa enak. Selain ada makanan yang cukup fatty seperti burrito, ada juga yang sehat seperti muesli. Ehtapi yang pesen ini sih pacarnya temen, karena dia hidupnya sehat pake banget. *kalo gue agak impossibru gitu ya kayaknya :D*

ImageImage

Setelah brunch yang mengeyangkan di Lanai, gue berangkat ke Pandawa Beach. Pandawa ini semacam the new Dreamland atau Padang-Padang. Karena tadinya termasuk pantai yang kurang terkenal. Kalau mau ke Pandawa, arahnya sama kok kayak mau ke Uluwatu (percaya ga? percaya aja deh :P). Pantai-pantai di daerah situ kan terkenal karena keindahannya di balik tebing, jadi jangan harap ketemu sinyal ya, soalnya ketutup tebing (-__-“). Begitu sampai di Pandawa, pas banget lagi panas-panasnya! Jam 12 pemirsa! Tapi ga apa-apa deh, yang penting dapet view kayak gini:Β Image

Setelah menikmati beer dan kelapa muda di pantai (close to heaven), gue pun laper. yaiyalah manusia, perlu dikasih makan. Enaknya makan apa ya? Adek gue pun ngasih tau ada satu tempat makan burger yang direkomendasikan banyak orang di TripAdvisor, namanya Wacko Burger.

Wacko Burger terletak di Kayu Aya Square, deket sama Oberoi. Tapi tempatnya nyempil cynnn. jadi jangan lupa perhatikan tanda-tanda di sekeliling situ ya kalau berencana untuk makan di sana. Sesampainya di Wacko, kami pun order menu yang katanya special. Sorry, gue lupa namanya. (-__-“) *ingetnya cuma Flaming something sama Wacko something*

Image

ini yang adek gue makan, di dalemnya ada beef bacon dan melting cheese. Looks yummy, rite?Image

nah kalo ini yang gue pesen, flaming itulah-namanya-gue-lupa. French friesnya gede banget, dagingnya fresh (dan endes banget!), dan menariknya waktu gue order kan ditanya, rotinya mau medium atau well done? Gue pesen medium, eh beneran dong dibuat medium. Enak, empuk, ga keras. Perfect untuk harga 49K!

Oh ya, di sini juga kita bisa ketemu owner sekaligus chefnya. Dia datengin meja kita, terus nanya personally, “gimana rasanya?”, “tau tempat ini dari mana?”, “kalau suka, boleh komen di tripadvisor.” WOW. Sebagai customer, happy lah dapet treat kayak gitu. Di jakarta, jarang banget ada tempat dengan service kayak gitu, mungkin udah ga ada kali ya? sayang sekali. 😐

Pulang dari Wacko Burger, gue mampir bentar ke Biku. Berhubung udah kenyang banget, akhirnya gue take away aja. Padahal tempatnya kece dan vintage gitu. Menarik deh.Β Image

(napkinnya model batik tua gini, suka deh)

Image

Menariknya, ada dekorasi yang kayak gini. Kreatif ya πŸ˜€

Image

Menurut waiternya, mexican choco cake ini adalah salah satu favorit cake di Biku, tapi menurut Adit (juragan Ouiche), yang juaranya adalah Murberry Pie. *dan bener, choco cake ini rasanya biasa aja, di jakarta juga banyak*

Oke, mari lanjut lagi hari keempat. Tapi besok aja ya πŸ˜€ admin blogpost ini mau pulang dulu.. Ciao!

Culinary Trip in Bali part 1

Setiap orang pasti punya alasan untuk traveling, entah itu untuk melepaskan stress, atau untuk honeymoon, atau sekedar buang duit (eh beneran ada yang kayak gini lho :D). Berhubung setiap orang punya interest yang beda-beda, pasti tempat yang bakal kita datengin juga berbeda. Nah, minggu kemarin gue sempet cuti ke Bali. Tapi kali ini ke Bali ga hanya untuk leyeh-leyeh di tepi pantai lho, soalnya gue sekalian nyoba beberapa tempat makan ketjce hasil rekomendasi dari beberapa teman. Karena menurut gue, you will always find something new in Bali. Entah itu pantai, tempat main, hotel atau resort, atau jalan tol! Image(tapi yang kayak gini tetepΒ wajib dilakukan)

Hari pertama mendarat di Bali, pas banget dengan Hari Raya Galungan. Alhasil, susah banget cari tempat makan. Padahal udah ngebayangin pizzanya Warung Italia Seminyak atau Sate Babinya Warung Made. Eh ternyata tutup sodara-sodara! Puter-puter ke area petitenget sama kerobokan, banyak juga yang tutup. Akhirnya adek gue yang kebetulan lagi kerja di Bali ngajak makan di Bali Bakery. Awalnya sempet ragu, soalnya gue kira tempat ini cuma jual menu roti dan dessert. Ternyata, menunya lengkap! dari segi harga dan rasa, not too bad. Waktu itu gue pesen pizza dengan bacon. Memang sih rasanya jelas lebih enak Warung Italia, tapi berhubung laper, ya enak-enak aja. Tempatnya juga oke dan luas.Β Image

Setelah makan pizza, it’s time for dessert! Adek gue pesen cheesecake, dan gue pesen tiramisu (plus peach yoghurt tart). Tiramisunya endesss, ga terlalu manis. Justru si peach yoghurt tartnya yang agak kemanisan, begitu juga dengan cheesecakenya, terlalu manis. Untungnya, eclair si Bali Bakery ini endes banget.Β Image(kiri: tiramisu, kanan: peach yoghurt tart) *ga sempet fotoin eclairnya, terlalu enak, jadi langsung dimakan :))*

Hari kedua!

di hari kedua ini gue dapet rekomendasi dari mas Bayu Amus, pemilik blog Epicurina, untuk nyoba brunch di Tekor Bali, sebuah cafe di depan pantai Double Six. Secara yang ngasih rekomendasi food blogger, ya gue percaya-percaya aja dong :D. Untuk menuju cafe Tekor Bali ini, dibutuhkan perjuangan karena gue ga tau jalan #yamenurutngana. Untungnya di Bali, driver taksinya merangkap tour guide, jadi kita tinggal duduk manis dan bilang mau ke anu anu, terus dianterin deh.

Begitu sampai, gue langsung order menu specialnya, Tekor’s Special *ga kreatif pisan hahaaha*. Walaupun namanya Tekor, tapi percayalah ini ga akan bikin lo tekor, literally. Kenapa? Karena hanya dengan 49.5K saja, kita dapet menu brunch lengkap dengan minum! Terus isi menu Tekor’s Special itu apa aja?Β ImageImageImageΒ (total segini cuma 56K, itu pun udah plus pajak! wohooo!)

Kita boleh pilih telurnya mau diapain, goreng / scramble / rebus. Nah berhubung gue agak-agak takut sama kolestrol, akhirnya gue pilih direbus, tapi 3/4 matang. Dan bener aja, pas dateng, si egg yorknya (elahhhh bilang aja kuning telor) itu 3/4 mateng! (gatau gimana caranya sampe bisa begitu…). Gue agak kurang sreg dengan jamurnya, tapi ya karena I am not a big fan of mushroom. Tapiii cream cheesenya juwara, pemirsah! ga eneg, dan agak-agak pedes gitu. si cream cheese ini gue campur ke putih telur, endes! πŸ˜€

Let’s talk about the rest. Buah? OKE. Juice? Juwara. Fresh. Sesuai pesanan, no sugar added. Kentang? So-so. Tomat? ENDESSS. suka banget dengan bumbu yang ditaro di tengahnya itu. roti? udah ga sanggup dimakan :)) ehtapi sempet nyolek dikit selai stroberinya. Lumayan, ga kayak selai-selai murahan πŸ˜€

Suasana Tekor Bali ga senyaman cafe atau resto mahal, tapi kerasa banget Balinya. Menariknya, di sini banyak bule yang bawa laptop untuk kerja. Wah kalo di jakarta atau bandung, yang kayak gini seringnya ada di coffee shop doang πŸ˜€Β Image

Setelah ke pantai, lejeh-lejeh, dan kegiatan lainnya yang dilakukan berdasarkan tujuan ingin kulit lebih hitam, gue pun menuju Potato Head. Mainstream dan hipster banget kan? πŸ˜€ Tadinya sih pengen liat sunset di sana, tapi asliii penuh banget! Jadi males untuk berlama-lama di sana. Long story short, ini adalah menu-menu yang gue pilih:Β Image(chocolate chili mousse)

Image(wagyu beef burger)

First, dessert dengan cokelat rasa pedas. Awalnya aneh. Suapan pertama, biasa aja. Tapi sepersekian detik dari suapan itu, pedesnya kerasa. Tapi ga bikin seu-hah (seu – hah ini bahasa Sunda, dan sorry, gue gatau bahasa indonesianya 😐 ). Di bawah si choco ice cream ada brownies yang cukup padat dengan kacang (gue kurang tau itu kacang jenis apa). Nice combination.

Second, wagyu beef burger. Untuk harga 147K, it was not that bad. quite delicious. dagingnya medium well, kentang banyak, tempat penyajian yang lucu, tapi rotinya menurut gue dimasak dengan terlalu matang, jadi keras. Pada dasarnya sih tempat ini memang menjual view, jadi jangan berharap terlalu banyak untuk makanan yang enak pake banget :D. Cukup worth it untuk yang pengen liat sunset di tepi kolam renang.

Oke, next story would be on Culinary Trip in Bali part 2! Karena masih ada beberapa tempat yang makanannya enak, pake banget, plus harganya terjangkau! πŸ˜€