Last Day on 2015

Hi 2015,

 

 

Thank you for all these ups and downs.

Thank you for all colorful things.

Thank you for the love.

Thank you for all these life lessons that I’ve got for a whole year.

Thank you for everything.

 

 

And you, 2016!

Hi! I’ll see you soon! I hope you will bring new luck, new fortune, and new hope for my life.

Meh. We haven’t met each other yet but I’d already asked you lot of things hahahahaha!

Well anyway, I wish we could be a good friend.

 

2016, bring it on! πŸ’ͺπŸ’ͺπŸ’ͺ

 

Sincerely yours,

 

C.

Advertisements

Randomly Random

Hollaaaa!

Kayaknya udah agak lama ya saya gak nulis di blog. Terakhir ngeblog cuma review produk sulwhasoo yang magis itu dan cerita-cerita sedikit soal Penang. Oh well, namanya juga blogger-bloggeran, gak bisa setiap hari rutin nulis di blog (padahal mah males :P).

Di penghujung 2015 ini, banyak “kejadian” yang kurang menyenangkan. Tapi namanya juga hidup, berputar kayak roda kan. Klise sih, tapi bener. Buat saya, hidup tuh akhir-akhir ini kayak buku cerita. Kita gak akan pernah tau isi halaman berikutnya. Sedih, senang, so-so? Gak ada yang tau, kadang dikasih clue sama creator, kadang juga enggak. Kalau kata alkitab sih, “manusia berencana, Tuhan juga yang menentukan.” Seperti ituuu. (lho jadi religius gini hahahaha)

Anyway, taun 2015 kan udah mau kelar ya. Gak nyampe hitungan 30 hari pula. Kalau liat ke belakang, suka gak nyangka akhirnya bisa hampir menyelesaikan 2015 yang penuh dengan lika liku (lebay deh..). Buat saya setiap tahun ada masa beratnya, ada masa enggaknya. Kalo diliat-liat 2014 deramahnya lebih ke konteks professional, kalau 2015 lebih ke personal. Tapi mungkin karena (mungkin yaaaaa) saya sekarang agak lebih dewasa (yaaa secara umur makin tua juga kan), cara saya melihat sebuah masalah dan menghandle masalah juga jadi beda. Belum lagi setelah menikah, banyak masukan dari pasangan yang membuat saya jadi less-baper. Hahahahaha.

Kalau ada yang nanya, apa itu baper? Googling aja ya hahahaha! Ntar saya dikira alay lagi gara-gara pake istilah “baper” :P. Tapi seriusan, kalau biasa baper terus tau-tau enggak, itu berasa “cold-hearted“. Padahal aslinya dalam hati tuh kayak “grmblll grmblll” gitu (susah dijelaskan dengan kata-kata hahahaha).

Kalau ada masalah, biasanya saya pikirin banget. Misalnya nih, ada temen yang ngasih tau: “Eh si A ngomongin lo gini gini gini.” Langsung kepikiran deh. Kalau konteksnya kayak gitu, dan tau itu sebenernya gak bener-bener amat, (means, lo ada alasan kenapa lo menjadi seperti yang diomongin si A, atau bahkan yang diomongin A tentang lo itu gak bener sama sekali) ada gak keinginan buat ngasih tau A cerita yang sebenernya? Nah kalau saya, ada! hahahahaha! Gak penting kan. Emangnya si A siapa sampe saya kayaknya perlu klarifikasi? Padahal si A ini bisa aja denger gossip dari orang yang memang pada dasarnya gak suka sama kita secara personal. Shit happens. That’s life toh.

Makanya meme-meme kayak “your opinion doesn’t pay my bills” tuh bener banget. Karena mau lau-lau di luar sana ngomong apa aja, cicilan tetep harus dibayar tiap bulan. Oh dan ini viceΒ versa juga. Kalau saya komenin Kylie Jenner yang ngerebut pacar orang, atau soal bibirnya yang offside misalnya. Atau komenin orang-orang yang lebay pamer harta di sosmed. Hey, because they can!Β And your opinion doesn’t matter too! Hahahahaha.

Well, on a serious note, I hope everything’d be better on 2016. Kayaknya 2016 saya gak akan punya resolusi yang muluk-muluk seperti tahun-tahun sebelumnya. Sepertinya bukan resolusi atau grand plan yang saya butuhkan, tapi bagaimana bisa menjalani hidup setiap harinya dengan baik, dan gak lupa berdoa + bersyukur setiap harinya. πŸ™‚

 

All About Destination Wedding

Holllaaa!

Oke, blog post berikut ini sebenernya udah basi sih, karena harusnya saya tulis beberapa bulan lalu, tapi semoga kalau ditulis sekarang masih relevan ya πŸ˜‰

Saya mau share sedikit pengalaman tentang destination wedding. Apaan tuh?

Jadi destination wedding itu pernikahan yang dilakukan di luar domisili tempat kita tinggal. Destination wedding sendiri bisa dilakukan di luar kota, di luar pulau, atau di luar negeri karena berbagai alasan. Nah kira-kira kalau mau bikin destination wedding harus ngapain aja sih?

  1. Survey

Survey sebanyak-banyaknya! Minta quotation sana sini, cek harga, bandingin harga. Kayaknya kalau ini mah dilakukan sama semua calon pengantin ya :D.

Untuk destination wedding, kita perlu survey lebih jauh. Misalnya: apakah di tempat tersebut sudah ada mice managernya? Kalau sudah, biasanya kita gak perlu lagi ngehire WO; karena akan dibantu oleh mice managernya. Lalu untuk cake, apakah sudah tersedia atau belum? Kalau sudah ada, lalu apakah ada charge fee kalau beli dari luar? Lalu, nanti keluarga dan teman menginap di mana? Itu juga harus disurvey. Cari lokasi yang dekat dengan tempat ibadah, atau dekat dengan tempat resepsi?

Catering. Bunga. Decor. Check recheck. Attention to details.

Survey gak cuma dilakukan via email dan telepon lho, tapi kita harus meluangkan waktu untuk datang ke sana, liat sendiri tempatnya kayak gimana; karena foto-foto di website kan bisa aja nipu.

2. Β Budget

Nah ini penting banget! Bikin budget bukan sekedar budget untuk hari H doang, tapi juga budget untuk akomodasi. Dan ini harus didiskusikan dari jauh-jauh hari ya, jangan sampai karena kamu pengenΒ destination wedding terus ada omongan:Β “please jangan dadakan ngasih tau kalo lo mau nikah di luar kota..” :)))

3. Follow up

Biasanya kalau sudah ada mice manager di tempat tersebut, dia akan sering “tek-tok” sama calon pengantin. Tau sendiri dong, calon pengantin menuju hari H akan sangat sensitif hahahaha! Jadi follow up itu penting banget, jangan sampai ada yang miss. Kalau ngerasa gak sanggup untuk mengerjakan semuanya sendiri, saatnya melibatkan orang lain. Minta tolong ke teman atau saudara yang bisa dipercaya itu cukup mengurangi beban lho πŸ˜‰

4. RSVP

Buat saya dan suami ini penting, karena kita bisa memperkirakan berapa jumlah tamu yang akan datang. Ini juga terkait dengan lokasi dinner yang hanya bisa menampung sekitar 80 orang. Berhubung saya dan suami gak menggunakan jasa WO, kami berdua mengontak satu per satu tamu yang kami undang. Cape? Banget. Tapi kalau gak kayak gini kan gatau rasanya. πŸ˜€

5. Schedule

Bikin schedule itu penting banget, apalagi di destination wedding; di mana kita harus make sure menjemput saudara-saudara dan teman. Kalau kita menggunakan jasa transport agent, pastikan semua flight sudah terdaftar dengan baik. Jangan lupa juga untuk bikin schedule untuk hari H, supaya gak keteteran.

6. Doa

Ini udah paling penting sih, hahahahahaha!

IMG-20150329-WA0020

 

 

The W Day :)

Captured by Asrul

Captured by Asrul

Finally we tie the knot!

Terima kasih untuk semua keluarga, sahabat, dan teman-teman yang sudah bersedia datang jauh ke Bali untuk ikut merayakan kebahagiaan kami. We’re really appreciate it πŸ™‚

Terima kasih untuk the best “Bridesmaids and Bestmen” team ever! You give 100% energy to help us! Thank you, thank you, and thank you! You’ve been there to solve our “problem” and “drama“. Laff!

the bestmen and bridesmaids team!

the bestmen and bridesmaids team!

 

And also thank you for all vendors! From the designer, make up artist, photography, videography, venue, flower, hotel, and transport!Β Thank you all for making our wedding day so perfect and enjoyable for everyone!

So this is it.

This is the beginning of our new family. πŸ™‚

The Vow :)

The Vow πŸ™‚

Captured by Alle! thank you :)

Captured by Alle! thank you πŸ™‚

 

Wedding Dress by: Hendy Wijaya

Suit by : Vertus Tailor

Make Up by: Chai Ilona

Wedding Flower by: Kintan Florist

Photographer and Videographer by: Gusde Photography

Wedding Venue : Ma Joly Lounge and Resto

 

Tentang Persiapan Menikah

Udah lama banget ga ngeblog, sekalinya ngeblog eh ngomonginnya nikah lagi, nikah lagi! Yaaa mau gimana gaes, yang punya blognya lagi kalang kabut ngurusin kewongan yang udah tinggal itungan bulan minggu. Maaf ya kalo topik blognya jadi ngebosenin gini πŸ˜€

Saya mau share dikit gimana rasanya nyiapin wedding yang cuma 1 hari itu tapi menyita waktu, pikiran, tenaga, plus duit tentunya selama berbulan-bulan. Apa yang harus kamu lakukan pertama kali ketika memutuskan untuk menikah?

1. hubungi tempat wedding yang udah kamu incer

2. hubungi gereja / masjid / tempat di mana kamu akan menikah secara agama

3. hunting vendor (baju pengantin, jas, souvenir, bunga, endesbrey endesbrey)

4. kalau kamu ngurus sendiri kayak saya: hunting vendor untuk dekor-dekor kecil yang akan kamu taro di tempat wedding

5. tentukan tema warna wedding kamu >> dan ini perlu didiskusikan sama ortu, kalau engga, ntar mereka ngomel-ngomel karena merasa tidak dilibatkan hahahahaha

6. Tentukan tamu yang diundang/engga >> ini sih tega ga tega ya. Ingat prinsip ini: this is your wedding, kamu berhak nentuin siapa yang HADIR ATAU TIDAK HADIR di situ. Jadi santai aja, okeksip.

7. … (silakan isi sendiri)

Saya selalu bilang sama orang-orang yang mau merit, “kalo lo punya duit lebih, like literally lo mampu, mending pake WO deh.” Serius. Kamu ga perlu mikirin perintilan dekor, rundown, dan hal-hal lainnya. Tapiiiii kalau duit lebihnya itu bisa buat DP rumah, ya mendingan berdarah-darah ngurus sendiri, dan DP rumah. ya ga sih? :D. Saya cukup beruntung karena pasangan saya dari dulu bekerja di bidang event. Semua sheet-sheet excel untuk persiapan wedding, rundown acara, sampai kontak vendor dia yang urus. Saya ngapain? Ya drama lah, ngapain lagi! HAHAHAHAHA. Engga ding. Kami berbagi tugas untuk follow up berbagai vendor yang dihire untuk kelantjaran hari H, tapi tetep sih, kalau saya ya pake drama-drama dikit πŸ˜›

Berhubung acara akan dilaksanakan jauh dari tempat domisili, banyak hal yang harus kami perhatikan, termasuk akomodasi keluarga. Nah kalau udah kayak gini, daripada ribet dan ntarnya ada banyak pihak yang ikut campur menentukan pilihan kamu, saran saya (dan yang saya lakukan) adalah: go with the flow! Ga usah dengerin komentar saudara yang pengen ina ini itu. Masuk telinga kiri, keluar telinga kanan aja. Toh itu acara kalian berdua. Okeksippp.

Belum lagi nantinya bakal ada drama ini itu, drama-drama kecil yang sebenernya ga perlu, tapi kok ada ajaaaa. Kalo udah gini, ga usah dibikin pusing, ga usah dibikin ribet. Ditinggalin aja kalo ada yang drama hahahaha.. kecuali kalo yang drama orang tua yaaa, itu sih mau ga mau kudu dihadepin sendiri *ganbate ne*!

Buat ngurangin stress, coba rajin-rajin spa deh, minimal pijet sama totok wajah. Ngebantu banget untuk release “the bridezilla” lho! Jadi bolehlah sebulan dua kali ke tempat spa langganan. Ga mau kan kayak jadi bride yang kayak gambar di bawah ini? πŸ˜€

10595079_s

Image from:Β http://www.lynnbrownphotography.com/weddings/blog/bridezilla-is-on-the-rise-weddings-across-the-country/

Goodbye 2014, Hello 2015!

Unknown

Goodbye 2014!

Harus saya akui, 2014 itu benar-benar tahun kuda alias tahunnya kerja keras. Kerja keras dalam hal ini tidak hanya seputar dunia pekerjaan, tapi juga untuk semua aspek kehidupan saya.

2014 itu tahunnya saya “belajar” lagi. Dengan segala ups and downs, 2014 saya diisi dengan banyak pengalaman baru, banyak teman baru, sempet liburan juga, banyak nangis (emang deramah banget anaknya), banyak ketawa juga. It was a colourful year for me.

Banyak hal yang mengecewakan di awal tahun, tapi Tuhan gantikan dengan yang lebih baik di pertengahan tahun dan akhir tahun. Dan dari semua hal yang saya lewati selama 2014, saya belajar kalau kunci semuanya itu doa. Saya bukan orang yang religius sebenernya, tapi di 2014 ini saya belajar menyerahkan semua rencana saya sama Yang Di Atas dan ternyata rencana saya itu ga sesuai dengan rencana Tuhan. Saya berusaha banget supaya rencana saya bisa tercapai di awal tahun 2014, eh ternyata meleset. Dan akhirnya saya nyerah. Eh abis itu Tuhan kasih berkat yang lebih dari cukup sampai hari ini. Thank God.

Di 2014 juga saya jauh lebih fokus dengan segala kegiatan yang saya lakukan. Salah satunya rencana hidup sehat! Saya berhenti makan nasi putih for good, minum cold pressed juice setiap hari, minum honeylemonshot setiap pagi, dan rutin pilates. Saya juga mengganti skin care dan menambah peralatan dendong (dan saya suka dengan hasilnya :D), plus rutin ketemu sahabat-sahabat terdekat saya (yang jumlahnya ga nyampe 10 orang itu, but I can count on them), dan tentunya di 2014 ini saya mempersiapkan pernikahan saya dengan lebih serius.

Kalau ditanya orang, apa resolusi di 2015? Saya bilang, saya akan melanjutkan apa yang sudah saya lakukan di 2014. Because I’m quite happy with that. Ada sih rencana seperti pengen beli rumah karena saya akan segera berkeluarga, atau mungkin nanti pengen liburan agak jauh sama suami sekalian nengok adik saya yang sekolah di negeri biri-biri. Yah rejeki udah ada yang ngatur, kalau dikasih Tuhan bersyukur, kalau engga masih bisa tahun depan lagi. πŸ˜‰

So in the end, thank you 2014. Thank you for everything.

And 2015, hello! I hope we can get along together. πŸ˜‰

Selamat Tahun Baru untuk semuanya!

Gambar diambil dari sini:Β http://www.downloadfreepictures.com

And “The Nightmare” Begins..

Okay, jadi ternyata ya saudara-saudara sekalian menjadi calon pengantin itu ga gampang sama sekali. To be clear, keputusan untuk menikah aja ga segampang itu untuk diambil, dan ternyata setelah memutuskan “okay, let’s get married!” masih ada berbagai hal yang harus diurus; yang ujung-ujungnya adalah The Wedding Day.

Sudah hampir sebulan belakangan saya dan pasangan membuat budget pernikahan, awalnya kita berdua pengen yang simpel dan sederhana aja, dan ga bikin repot semua orang. Kalau bisa malah ga pake jasa wedding organizer, karena jasa WO itu maharani, mak! Seriusan, mending buat DP rumah #eaaaa πŸ˜€

Berhubung venuenya bukan di wilayah domisili kami berdua, rada kelabakan juga nih milih waktu buat survey tempat dan printilan lainnya, belum lagi harus survey ke gereja setempat karena takutnya tanggal yang kita pilih udah ada yang booking. Nah, yang bikin ribet lagi adalah keinginan orang tua. Iya sih, ortu kami berdua bukan tipikal yang menuntut harus ini itu, tapi yang namanya orang tua ya bok, suka ngomong gini kan: “yaaa kan kamu yang merit, mama sih terserah aja. tapi akan lebih baik kalau…” *here we go*. Sekali waktu saya, ortu, dan pasangan berkunjung ke Wedding Festival dan tebak siapa yang lebih semangat nanya-nanya ke vendor? Tidak lain dan tidak bukan adalah orang tua, bahkan papa saya seneng banget sama berbagai souvenir unik, bodor deh liatnya πŸ˜€

Terus apalagi ya? Oh iya sebisa mungkin kami mengusahakan supaya keinginan masing-masing ortu dapat terkoodinir dengan baik, karena yah orang bilang kan, acara nikahan anak itu sebenernya acara orang tua juga; karena itu simbol mereka “melepaskan” anaknya. Bagian ini susah-susah gampang sih. Gampang kalau kita anak kedua atau anak ketiga. Susah kalau kita anak pertama dan cucu pertama! #duhcurhatkan. Seriusan deh, pas kemarin kumpul keluarga riweuhnya minta ampun :))

Di satu sisi, saya seneng banget karena Om Tante dan sepupu-sepupu excited dengan hal ini, karena mereka banyak memberikan ide-ide baru walaupun kadang offside :P. Di sisi lain, saking riweuhnya saya jadi bingung sendiri tapi ya udahlah usulan positif mah ditampung aja yes, karena seperti yang orang bilang, kalau mau merit banyak-banyakin denger kata orang tua biar lancar jalannya πŸ˜€

Berhubung rencananya masih taun depan, saya dan pasangan masih santai-santai aja. Walaupun kalau ngeliat beberapa pasangan yang bakal nikah taun depan juga, udah pada DP ini itu, udah nentuin pake bridal apa, jahit di mana, pengen di make up sama siapa, endebla endebla endebla.. Sebenernya sempet takut juga, apakah kami terlalu santai, atau begimana? Nah sampai akhirnya saya ketemu list ini! Kalau menurut list ini, 10-12 bulan sebelum hari H masih boleh lah santai-santai, paling banter bikin budget list, guest list, and another list.Β Screen Shot 2014-09-12 at 5.42.29 PM

Pada kenyataannya sih, list-list ini kadang-kadang jadi sumber perdebatan juga :D, tapi ya udahlah harus dimulai dari sekarang. So buat yang mau married, kayaknya normal aja ya jadi “bridezilla” tapi jangan “zilla-zilla” amat (wtf is zilla-zilla, this is not even a word, hahahahaha). Maksudnya, jangan sampe kayak gini ya:Β http://www.businessinsider.com/10-horrifying-bridezilla-moments-2012-10?IR=T&op=1Β *knock knock wood* πŸ˜€

Holy Grail For Dummies

Jadi ceritanya sepulang dari Jepang 2 bulan lalu, muka saya “hancur” alias jerawatan dan muncul banyak bintik-bintik hitam di sekitar pipi. Salah saya juga sih, soalnya saya ga pernah pake sunblock, penggunaan sunblock cuma pas lagi liburan di pantai aja. Padahal ternyata harusnya sunblock dipake tiap hari lho. Jadi pas di Jepang sama sekali ga ada tuh persiapan untuk menjaga kesehatan kulit, bahkan cuci muka aja seadanya banget :(, penyesalan memang selalu datang terlambat ya.

Anyway, sebelum berangkat ke Jepang mamak @kopiholico sempet cerita kalau dia pake produk SK II. Waktu itu saya mikirnya cuma gini, “ih mahal banget tuh pasti!”, dan tentunya ga ada niatan untuk beli hahahaha. Pulang dari Jepang, eh ketemu sama Nita yang ternyata udah pake SK II juga, dan dasar buzzer yaaa bisaan banget deh ngepromosiin produk-produk SK II :))). Semakin tertarik dong untuk beli, apalagi pas kondisi muka lagi parah banget. Akhirnya berkat rekomendasi 2 ibu-ibu buzzer itu, jadi deh saya beli SK II! yang pertama saya beli tentunya si FTE alias miracle water dan stempower sebagai moisturaizer. Awalnya nyesek banget bok! nyesek liat harganya. Secara seumur-umur saya ga pernah beli skin care yang mahal ya, agak shock juga. Tapi pas liat kemasannya yang gede, cukup lega lah karena produk-produk ini bisa dipakai untuk jangka waktu yang cukup lama. πŸ˜€

Berhubung saya bener-bener pengen total merawat muka (salah satu faktornya tentu karena usia yang sebentar lagi 30 dan supaya kece maksimal pas W day yaaa), akhirnya saya ganti deh semua rutinitas saya dalam merawat muka. Salah satu yang ngebantu banget adalah dengan rajin baca femaledaily! Percayalah dulu setiap baca femaledaily, saya ga ngerti sama artikel-artikelnya! Malah suka bingung, emang sebagai perempuan kita butuh skin care SEBANYAK ITU YAAAA? Oh well, dan ternyata iya pemirsa! :))

Dulu saya orang yang cuci muka cuma dengan facial wash, itu pun kalo inget. Iya, semalas itu (-__-“). Sekarang saya mencoba double cleansing atau bahkan triple cleansing (kalau lagi pake make up). Dan saya baru tau banget, double cleansing itu perlu untuk mengangkat kotoran di pori-pori. Dulu sih mana peduli yang kayak ginian :)). Agak nyesel sih baru mulai praktekin sekarang, tapi yasudahlah lebih baik terlambat daripada engga sama sekali :P.

Nah dari femaledaily juga saya baru tau istilah “holy grail skin care”. Holy grail skin care adalah produk-produk yang rutin dan wajib kita gunakan setiap hari, kira-kira gitu lah. Sebagai beginner, berikut list holy grail saya πŸ˜€

1. Cleanser

untuk susu pembersih dan toner, saya masih cinta sama produk-produk Viva. it’s cheap, good, dan ga bikin iritasi atau gatal-gatal. Sedangkan untuk facial wash, saya percayakan pada purity dan cetaphil. Buat yang pake clarisonic, purity ini oke banget untuk jadi temennya si clari lho, formulanya pas dan ga bikin kulit wajah kemerahan. Sedangkan cetaphil, saya pakai sebagai “finisher” dalam rutinitas mencuci muka, karena membuat kulit wajah lebih moist gitu πŸ˜€

Image

2. Thermal Water

Awalnya saya kira thermal water tuh hanya digunakan kalau kulit kita berasa kering doang, ternyata tidak sodara-sodara! Thermal water bisa digunakan sebelum pre serum atau bahkan pre miracle water, atau dijadiin toner! multitasking ya? Untuk thermal water, saya cinta mati sama produknya Avene. Oh ya rekomendasi untuk menggunakan Avene, saya dapat dari ngintip blognya beauty blogger cantik Harumi Sudrajat *sumpah iri banget sama koleksi make up dan skin carenya hahahaha*

3. Serum dan teman-temannya

Sebenernya si FTE alias miracle water itu bukan serum sih tapi pre serum, karena formula piteranya berfungsi untuk menutrisi kulit (saya tau ini dari mbak-mbak SPG counter SK II :D), nah berhubung udah ngerasain efek positif dari penggunaan FTE, kayaknya ga bakal berenti sih. Oh iya kemarin saya cek pake magic ring, ternyata ada perubahan dengan tekstur kulit saya, kata mbaknya sih sekarang keliatan lebih sehat, bintik-bintik hitamnya mulai pudar, dan pori-pori mengecil. Mari lanjutkan kalo gitu :)) *anaknya gampang banget kebujuk*

Abis pake FTW eh FTE, saya pake stempower dari SK II juga. Ini semacam pelembab anti aging, tapi udah boleh dipake di atas usia 25 tahun. Stempo ini jangan dipake banyak-banyak, nanti mukanya semakin berminyak πŸ˜€ (based on my experience yg make kebanyakan). Abis pake stempo rasanya enak banget! asliiii. kulit berasa lembut dan moist banget!Β Image

4. Face mask

Untuk masker, saya lagi-lagi kena buzzingannya Nita sama Mamak, gara-gara mereka saya jadi ikutan beli masker GlamGlow! Ehtapi ga nyesel sih, soalnya endes bingit! Pas dipake perih-perih gimana gitu, dia kayak narik semua kotoran di muka soalnya. Berperih-perih dahulu deh pokoknya πŸ˜€

Satu lagi masker yang baru banget saya coba: sleeping waternya Laneige! Awalnya gara-gara liat artikel Laneige di femaledaily, terus pengen coba deh *murahan banget hahahaha*. Akhirnya pas ke counternya, beli si sleeping water ini plus white spot essence untuk membantu proses menghilangkan bintik hitam. Sebenernya SK II punya juga white spot specialist, tapi harganya ga kuat bok. 😐

Surprisingly, produk-produk Laneige cukup terjangkau, at least ga semahal SK II atau “sodaranya”, Sulwhasoo (kalauΒ sulwhasoo mah mahal banget, serumnya aja bisa 2 yuta :(( ). Kesan pertama pake sleeping water Laienge, hmmm agak lengket gimana gitu. Tapi aromanya menenangkan banget, pas deh buat dipake tidur. Untungnya produk Laneige ini ga conflicting sama produk SK II, jadi abis saya pake FTE, lanjut white spot essence, lanjut sleeping mask deh. Rempong ya? :)))

Image

 

So far segini dulu holy grail skin care for dummies ala saya, belum kepikiran buat nambah lagi sih. Sebenernya si Laneige ini punya water series yang kayaknya oke banget, dan kayaknya saya pengen coba soalnya kemarin ada temen yang beli, dan kulit wajahnya jadi lebih smooth, pori-pori mengecil, dan lain-lain. *tuh kan anaknya kabitaan banget* :))

((( SUKSES )))

ImageSebelum meneruskan #JapanTrip di Osaka, saya pengen berbagi cerita sedikit tentang apa yang saya alami kemarin. Jadi ceritanya kemarin saya ketemu dengan teman-teman kuliah, cuma sama Patrick dan Ira sih. Well, saya tidak termasuk di dalam golongan anak populer dan gahwul pas jaman kuliah, jadi ya temennya memang 4L (lo lagi lo lagi) :D.

Layaknya sebuah pertemuan dengan kawan lama, banyak cerita mengalir dari kami bertiga. Tidak hanya tentang kehidupan kami pribadi, tapi juga tentang teman-teman yang lain. Mulai dari yang masih single, akan menikah, sudah menikah, sudah punya anak, dan tentunya mengenai pekerjaan. Obrolan kami dimulai dari jam makan siang, coffee time, sampai sore menjelang malam. Benar-benar seperti melepas rindu deh :).

Pada beberapa topik, kami sempat membahas mengenai kesuksesan. 10 tahun yang lalu, kami bertiga adalah anak-anak remaja yang baru menimba ilmu di sebuah kampus di Bandung, dan saat ini rasanya begitu berbeda, entah karena sudah berumur (( BERUMUR )) atau memang, well, people changed.

Sebenarnya tolak ukur sukses itu apa sih? Apakah dinilai dari berapa banyak barang bermerk yang bisa kita beli? (Well, beli barang branded sekarang bisa ngutang via CC sih). Atau, dinilai dari tingginya posisi/jabatan? Masih staff, officer, sudah jadi manager, atau bahkan sudah jadi director? Atau, dinilai dari seberapa sering kamu jalan-jalan alias traveling? (ini juga bisa ngutang via CC kok :P). Atau bahkan dinilai dari tingkat pendidikan? (S2, S3, STeler, STehManis #krik :P)

Menurut Ira, sebenarnya tidak ada indikator atau tolak ukur kesuksesan yang valid, kecuali ya untuk orang-orang kayak Bill Gates atau Warren Buffett :)). Karena ukuran sukses itu diri kita sendiri yang menentukan. Misalnya nih: dengan mencoba melakukan investasi di bidang reksa dana/properti, kita merasa sudah cukup sukses. At least, sukses dalam artian punya tabungan/simpanan jangka panjang. Atau gini, kita merasa sukses kalau salary sudah mencapai angka tertentu dan akhirnya mampu membeli barang tertentu yang punya nilai jual. Tapi, kita juga bisa merasa sukses kalau kita mampu menjadi istri dan ibu yang baik untuk keluarga tercinta.

Pada akhirnya,Β indikator kesuksesan itu memang harus berdasarkan standar yang kita buat sendiri. Namanya manusia, kadang ga pernah puas. Kadang terlalu liat ke atas juga, padahal banyak hal-hal kecil yang tanpa sadar kita sering lupakan, dan mungkin, kurang bersyukur dengan apa yang sudah kita achieve saat ini πŸ™‚

Jadi, apa indikator kesuksesanmu?